Menjadi orangtua di abad 21 memiliki tantangan tersendiri. Disatu sisi sangat dimudahkan dengan akes informasi melimpah dan teknologi canggih. Banyak informasi terkait pengasuhan anak, teori psikologi perkembangan dan komunikasi yang efektif dapat diakses secara cepat. Namun disisi lain, derasnya arus informasi justru menimbulkan tekanan baru, seolah ada standar ideal yang harus dicapai agar layak disebut “orangtua yang baik”.
Saat ini banyak orangtua yang mencintai anaknya dengan tulus, namun lupa mencintai dirinya, Orangtua banyak mengorbankan waktu istirahat, menekan perasaan bahkan menilak kebutuhan probadinya demi memenuhi ekspektasi sosial atau memenuhi tuntutan tentang “pengasuhan yang sempurna”. Dalam diam, orangtua mengelami kelelahan yang membuat mereka mudah marah, hilang kesabaran dan merasa ajuh dari dirinya maupun anak – anaknya.
Disinilah welas asih pada diri menjadi hal yang krusial. Belas kasih apda diri bukan bentuk kelemahan, namun kekuatan batin untuk menerima diri secara hangat di tengah ketidak sempurnaan. Belas kasih bukan hanya memanjakan diri, melainkan sikap penuh kesadaran bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan termasuk dalam hal ini orangtua. Dengan welas asih, kita belajar memeluk diri sendiri dengan kelembutan.
Welas asih terdiri dari tiga elemen utama yaitu bersikap lembut pada diri, menyadari bahwa penderitaan adalah bagian pengalaman, dan menerima perasaan tanpa menghakimi. Jika ketiga elemen ini hadir dalam kehidupan orangtua, maka pengasuhan tidak lagi menjadi beban. Belas kasih kepada diri membantu orangtua mabhawa ketika dirinya mengalami kelelahan, frustrasi atau rasa gagal bukan merupakan tanda ketidak mampuan, melainkan untuk beristirahat dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Saat orangtua mampu bersikap lembut pada diri, harapannya orangtua juga mampu bersikap lembut pada anak.
Pengasuhan yang sehat selalu berakar dari keseimbangan batin orangtua. Anak – anak membutuhkan kehadiran yang stabil, bukan kesempurnaan. Merek amembutuhkan pelukan hangat lebih dari sekedar rumah yang rapi. Oleh karena itu orangtua perlu lebih dahulu belajar mencintai diri sendiri dengan penuh belas kasih.
Berikut adalah latihan praktis yang dapat dipergunakan orangtua untuk memiliki welas asih:
- Penafasan sadar dengan menatik nafas perlahan dan menyadasi tubuh.
- Self talk positif seperti misalnya: mengubah kata “aku gagal” menjadi “aku sedang belajar”.
- Belajar menulis surat untuk diri sendiri. Anda bisa menuliskan kata – kata penuh kasih yang ingin di dengar saat sulit.
- Saat emosi muncul, berhenti sejenak dn beri nama perasaan itu tanpa menghakimi.
Dengan demikian, belas kasih bukan kemewahan. Belas kasih adalah kebutuhan dasar psikologis agar kita bisa hadir utuh untuk anak – anak.